Lagu Risalah Hati yang berkumandang dalam 'headphone' dimatikan.
Mual rasanya setiap kali mendengar lagu itu. Terasa bagai disumpah.
Hana termenung, dia tidak pernah sangka bahawa dia akhirnya dilamar
orang yang tidak pernah terlintas dalam fikirannya.
"Kenapa? Kenapa bukan Hadi yang melamar?"
Dia bangun meninggalkan komputer meja yang baru sebentar tadi mendendangkan
lagu yang pernah menjadi lagu kegemarannya.
"Ceh, risalah hati. Memanglah feeling romantic tapi..."
"Hana...Dah siap ke belum? Sekejap ni mak pihak lelaki dah nak masuk sarung cincin ni."
Terdengar suara ibunya seakan-akan berbisik di hadapan pintu bilik.
"Dah mak" Hana menyarungkan selendang ke kepalanya.
- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -
"Apa la kau ni Hana, Hadi suka kat kau kut yang kau pergi tunang dengan orang lain tu kenapa?"
"Mak ayah aku yang setuju. Kalau ikutkan aku memanglah tak nak. Aku takut aku derhaka je kalau tak setuju"
"Eh mak kau paksa ke? Eee bodohlah kau ni. Sori la ini pendapat aku, tak salah kau cakap kat mak ayah kau yang kau dah ada kekasih. Kau sukakan Hadi dan kau nak kahwin dengan dia SAHAJA."
"Aku nak kahwin dengan Hadi tapi...Hadi nak ke kahwin dengan aku?" soalnya di dalam hati.
Inilah punca dan masalah besar dalam kepala Hana.
Hadi bukan kekasih Hana, Hana bukan kekasih Hadi.
Tetapi Hana sukakan Hadi dan yakin pula Hadi sukakan dia kembali.
Sudah 7 tahun mereka berkenalan, sejak awal universiti dahulu.
Memang Hadi dan Hana ni macam belangkas.
Mereka kata mereka kawan, memang betul pun
Cuma lama-kelamaan entah macamana perasaan lebih-lebih tu muncul.
"Adakah aku mudah sangat jatuh suka ni? Kenapa aku rasa suka dia?"
Mulalah si gadis memasang anganan. Dia fikir lelaki itu juga sama.
Macamlah telepati, semua yang dilakukan seperti 'synchronize' kata orang putih.
Termakan juga dia dengan 'nasihat' rakannya.
Lalu ke rumah dia menuju~
"Mak, sebenarnya Ana tak suka nak bertunang hari tu. Kenapa mak nak sangat tunangkan Ana?"
"Aik kau tak cakap pun masa mak suruh tu?"
Sambil menghenyak tubuh ke sofa, "Dah mak nampak beriya benar, Ana tak naklah kecewakan hati mak"
"Habis tu kenapa tiba-tiba tanya sekarang? Kau nak kahwin dengan siapa lagi? Umur dah nak masuk 26 tapi tak kahwin-kahwin lagi. Siapa yang kau nak tunggu? Mak dengan ayah kau dah tua blablablablablabla"
Tipikal bebelan orang tua pada anak perempuan yang belum kahwin pada usia pertengahan 20-an.
"Ana...sukakan Adi...Ana nak kahwin dengan dia..."
Ibunya tersenyum sinis
"Hadi tu, mau ke kahwin dengan kamu?"
Hana tersentak. Tiba-tiba dia rasa kata-kata ibunya menikam jantung. Sentap bukan main.
Dia merajuk, terus berlalu ke bilik dan mengunci pintu, lalu bertafakur di atas katil.
"Hm...Hadi mau ke kahwin dengan aku? Bukan dia suka aku ke? Tapi kenapa dia tak pernah...
Em...kenapa dia tak pernah nak beritahu aku, minta aku tunggu dia ke, beritahu yang dia nak kahwin dengan aku ke...entah-entah betul kata mak. Kalau dia maukan aku, takkanlah sampai dah 7 tahun pun sikit 'hint' pun tak ada?"
Bermonolog gadis itu di dalam hatinya. Tarikh hari nikahnya tinggal lagi 2 minggu.
Memang patut pun ibunya nak marah bila dia tiba-tiba menunjukkan belang.
Tapi tiba-tiba apanya, dia baru bertunang 2 minggu lalu, dan lagi 2 minggu dah nak nikah?
Memang &*%$#@ betul lelaki ni.
- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -
"Wah~ Imran nak kahwin dah~ Tak sangka aku baii, selalu selamba tak kisah perempuan!"
Imran tersenyum. Dia entah kenapa tidak begitu berasa bersalah terhadap Hadi.
Dan kini Hadi sedang mengagumi dirinya yang akan berkahwin dengan Hana, perempuan paling rapat dengan Hadi. Kawan-kawan yang lain turut mengagumi Imran. Identiti perempuan itu yang dibiar misteri menambah keterujaan Hadi dan rakan-rakan yang lain.
"Eh kau bila lagi Di? Takkanlah tak ada perempuan yang kau berkenan?" Imran menguji.
"Entahlah wei, aku...suka kut dekat Hana tu tapi..."
"Tapi apa?"
"Tapi aku tak tahu samada betul ke tindakan aku kalau melamar dia? Macamana kalau dia 'reject' aku? Tak sangguplah aku nak terima."
"Eh, takkanlah dia nak 'reject' kau, aku tak pernah nampak dia rapat dengan lelaki lain pun."
Imran seperti ingin bermain dengan api. Gila agaknya mamat ni.
"Em...nantilah aku fikirkan. Aku masih tak boleh nak terima bila fikir kalau-kalau dia 'reject' aku."
"Haha~ apa-apalah baii. Kalau kau tunggu lama-lama, aku curi dia jelah."
"Haha! Kalau kau berani! XD
Memang dia berani. Hadi itu pengecut.
2 minggu tidak lama, sedar-sedar sahaja dia sudah menikahi Hana.
Dia tahu Hadi sukakan Hana tetapi takut. Dan dia tahu Hana sukakan Hadi tetapi juga takut.
Dia sukakan Hana dan tahu perempuan itu tidak pernah mempedulikannya.
Tetapi dia berani. Lebih 'challenging' lah kononnya kalau kahwin gaya macam ni.
- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -
"Hana dah kahwin? Dengan siapa? Kenapa dia tak pernah bagitahu aku?"
Hadi tersandar di dinding. Dia bagaikan tidak percaya dengan berita yang didengarinya. Nampaknya memang betul Hana tak pernah sukakan dia. Kalau suka kenapa sanggup kahwin dengan orang lain? Dia kecewa, terdiam beribu bahasa. Pintu bilik yang memang sudah dikunci, tidak dibuka melainkan untuk ke bilik air. Ibu bapa Hadi pun jadi risau. Apa nak jadi dengan Hadi.
Malam pun berlabuh. Hadi yang kekecewaan mendail nombor Imran.
"Imran...macamana semua? Ok? Kau nikah hari ni kan?"
"Alhamdulillah, semuanya berjalan lancar. Maaflah tak jemput kau, aku segan baii"
"Em tak kisahlah. Janji semua ok. Weh, Hana dah kahwin. Dengan orang lain. Dia memang tak suka aku la..."
Terdengar di telinga Imran seolah-olah Hadi menahan tangis. Terbit pula rasa tidak tenteram.
- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -
"Imran, eh abang Imran..."
Hana bersuara setelah kebisuan bak kuburan untuk masa yang lama.
"(o.O)?"
"Jangan marah ya kalau Hana tanya."
"Ok"
"Abang Imran mesti tahu kan hal orang lelaki ni. Lagi pula abang Imran kawan baik Hadi."
Imran mengangguk-angguk
"Dia...memang tak pernah suka pada Hana ya? Dia pernah cerita apa-apa pasal Hana tak?"
Imran terdiam. Tidak sanggup menjawab.
"Kalau pernah? Kalau betul dia sukakan Hana kenapa?"
Jantung Hana berdegup kencang.
"Kalau betul. Tapi mesti tak, kalau ya takkanlah dia boleh biar je, lepas tu tak pernah kisah nak..."
Perempuan itu mematikan bualnya. Takut pula melampaui batas dan mengguris hati suami.
Kebisuan beberapa ketika.
"Suka lagu Risalah Hati?" Imran memecah kesunyian
"(O.O)"
"Imran nak sampaikan lagu tu pada Hana..."
".....sejak bila....sejak bila Imran...."
- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -
Keretanya meluncur laju. Lampu-lampu di sepanjang jalan, seakan kalau tak ada pun tak apa.
Ada air mata tapi cepat-cepat diseka. Bukan kesedihan yang patut menghuni diri. Ada perkara yang lebih penting harus dirungkaikan.
"Makcik, Hana....Hana...."
"Hana ada di atas. Nanti makcik panggilkan." Ibu Hana menyambut dengan muka toya.
"Tak apa, saya pergi jumpa dia."
Hadi meluru masuk dan terus menuju ke tangga. Terhenti sejenak apabila...
"Bila anak aku dah kahwin tahu pula kau sedih? Bukan main lama dia tunggu kau tak datang meminang. Sekarang makcik minta kau janganlah mengganggu hidup dia. Kau patut hormat pada suami dia."
Geram pula hati Hadi mendengar tembakan laser ibu Hana. Tahap kegeramannya lebih kurang macam Kassim Selamat semasa Dr. Ismadi mengungkit pembedahan mata yang dijalankan.
Hadi meneruskan perjalanan menaiki tangga. Dia membuka semua pintu bilik yang ada. Ada yang perlu diperbetulkan. Rupa-rupanya selama ini Hana menunggunya, Hana sukakannya seperti mana dia menyukai Hana.
"Sekarang perkara sudah jadi tidak betul," bentaknya dalam hati.
Dia menolak semua pintu yang ada. Dia tiba di hadapan sebuah bilik dan terdengar suara menyanyi sebuah lagu cinta. Hatinya remuk, berkecai dan marah. Dia menolak pintu dengan kasar.
Hana tersentak, nyanyian Imran terhenti.
"Hadi..." Hana bersuara.
Dia menghampiri Hana dan menarik lengan perempuan itu yang masih berbaju nikah siang tadi. Jelingan dendam sempat dihadiahkan kepada Imran. Hana terus ditarik menuju ke pintu.
"Hadi! Dia isteri aku sekarang. Lepaskan."
Hadi terhenti. Dia tersenyum sinis walaupun ada sisa air mata di pipi. Dia memusingkan badan memandang Imran.
"Laa ilahaillallah muhammadarrasulullah"
BANG!!!!!
Tembakan dilepaskan, tepat mengenai kawasan jantung. Latihan memanah yang pernah dijalani Hadi suatu masa dahulu nampaknya tidak sia-sia. Sekarang dia boleh bersama Hana. Dia sukakan Hana dan Hana sukakan dia. Tidak ada lagi Imran si perampas.
Imran rebah menyembam ke lantai. Darah yang mengalir dari tubuhnya tiada hentinya.
Hana menjerit sekuat hati. Dia menjadi janda dalam sekelip mata. Auratnya belum sedikit pun terlihat oleh suaminya yang kini sudah meninggal dunia.
Hadi...dia jadi takut dengan Hadi. Hilang terus suka dan cintanya terhadap lelaki itu yang sudah 7 tahun menjadi sahabat. Dia menangis, apalah yang mampu dilakukannya lagi pada waktu-waktu begini.
"Hana...sekarang kita boleh bersama. Hadi pun sukakan Hana, mari kita kahwin? Maaf sebab buat Hana tunggu lama."
Hadi menyampaikan risalah hatinya yang sudah tidak bermakna lagi.
Hana menangis semahunya, terasa ingin mengikuti suaminya ke alam barzakh tetapi itu tidak menghalalkan dia untuk mengambil nyawanya sendiri.
Risalah hati Imran, walaupun sekadar lagu kumpulan Dewa yang dinyanyikan untuknya, terpateri ampuh dalam hati, mungkin sehingga mati.
Risalah hati Hadi yang penuh misteri dan teka teki, percaturan yang akhirnya dimenangi oleh syaitan yang durjana.
Showing posts with label cerita pendek. Show all posts
Showing posts with label cerita pendek. Show all posts
Thursday, 24 November 2011
Friday, 18 November 2011
[NUKILAN] Suria Semalam
Hari ni hari terakhir sekolah.
Suria membaca komik Doraemon di kelas.
Kadang-kadang matanya melilau ke kiri dan kanan.
Cikgunya tak ada dalam kelas pun, maka pemandangan
yang dilihatnya pun memang gaya sewaktu cikgu tidak adalah.
Main bola kertas sana sini, yang perempuan duduk bergosip
Tak kurang juga yang bersidai di koridor kelas.
Suria mengeluh, kepalanya diturunkan agar dagunya mencecah meja.
Nampak malas, serupa orang tak makan pun ada.
"Bosannya...menyesal datang sekolah. Baliklah"
Senyap-senyap dia kemas beg. Begnya besar macam nak isi muatan banyak.
Tapi leper sajalah, maklumlah hujung tahun.
Tapi nampaklah ilusi budak rajin kalau pakai beg serupa itu.
Selesai mengemas, dia pun melangkah keluar kelas.
Rakan sekelasnya yang sibuk bergosip tak hiraukan pun.
Yang sedang bermain bola kertas apatah lagi, lebih khusyuk daripada bersolat.
Dalam perjalanan nak menuruni tangga dia terserempak seorang guru.
Haruslah memberi salam, tetapi tindak tanduknya dihidu oleh sang guru.
"Eh nak pergi mana awak ni?"
"Cis, matilah aku," gumamnya. Apa yang nak dijawab olehnya?
"Em, cikgu...sebenarnya saya nak balik rumah. Hari ni hari terakhir.
Dari pagi saya duduk kat kelas tak buat apa pun, baca komik saja.
Sudilah kiranya cikgu membenarkan saya pulang."
Alamak skemanya ayat. Cikgu memandang Suria. Suria memandang Cikgu.
"Eh 'handsome'lah cikgu ni. Aku tak pernah perasan selama ni."
Wah wah hatinya nak berbunga pula?
"Suria, cikgu tahu awak bosan. Hari ni memang tak ada belajar pun.
Saya nak pergi jaga kelas awak ni, tapi berapa ramai kawan awak yang datang?"
"Adalah lebih kurang 9 orang."
"Eh sedikit sangat tu. Tapi saya terpaksa juga jaga. Peraturan sekolah
pantang dilanggar. Mari, kita akan buat aktiviti yang seronok.
Baru awak kurang bosan :)"
Suria akur dengan kata-kata cikgunya. Dia menuruti langkah lelaki itu dari belakang.
Sambil itu hatinya berkebun bunga bila cikgu itu tahu namanya. Suria lupa barangkali
bahawa tanda nama yang dipakainya memang besar. Dia terasa 'special'.
Setibanya di kelas, alangkah terkejutnya mereka kerana...kelas kosong.
Habis seorang rakan sekelas Suria pun tidak ada di kelas.
Cikgunya menjeling tajam.
"Ta..tadi mereka ada cikgu. Saya dah keluar lepas tu tak tahu pula yang mereka pun nak balik."
"Sudahlah, tak mengapa. Suria apa kata awak tolong saya di bilik guru sebentar?
Saya ada banyak kerja yang perlu dibuat. Awak boleh bantu saya?"
"Em....baik cikgu..." Suria menjawab separa rela.
Tiba di bilik guru, cikgu menyediakan sebuah kerusi di sebelah mejanya untuk Suria.
Dia lalu memberikan air kotak berperisa laici kepada Suria.
"Sekarang awak tolong susunkan semua fail ni mengikut abjad.
Saya harus menyemak dokumen lain. Kalau dah siap nanti beritahu ya?"
Cikgu menghulurkan senyuman yang terlalu manis.
Suria mengangguk, matanya tidak berkelip.
Dengan tekun dia menyusun fail-fail tersebut.
Terlalu bersemangat sehingga dia tidak langsung peduli kepada
reaksi jengkel yang diberikan oleh guru lain.
Cikgu lelaki misteri tadi telah pergi menguruskan perkara lain di luar bilik guru.
Suria, tidak lama kemudian, sudahpun selesai menyusun.
Dia lalu duduk kembali, mengeluh.
Sekali lagi, dia bosan.
Tetapi seketika kemudian, dia tersenyum manis.
Memang manis. Seakan teringatkan sesuatu, Suria bergegas keluar dari bilik guru.
Lebih kurang 15 minit kemudian, cikgu lelaki tersebut pun kembali.
Bila dilihatnya Suria tiada, dia lalu bertanya kepada cikgu lain.
"Ada nampak budak perempuan yang tolong saya tadi tak?"
"Tak nampaklah Cikgu Zul."
"Hm, tak apalah, baru ingat nak..."
Kata-kata cikgu Zul terhenti, matanya tertangkap sekeping nota yang
diletakkan di bawah pemberat kertas berbentuk seterika itu.
"Cikgu, terima kasih kerana nampak Suria. Selama ni tak ada siapa yang nampak dan pedulikan
Suria. Suria macam tak wujud saja dalam dunia ni. Suria tak tahu apa yang Suria dah buat sampai
bila balik rumah pun ayah dan ibu tak hiraukan Suria. Suria sedih. Datang sekolah pun tak dapat
menghilangkan keraguan dan duka Suria. Tapi hari ini, bila Suria berjumpa cikgu, Suria tahu yang
akhirnya Tuhan dah makbulkan doa Suria. Terima kasih cikgu. Terima kasih banyak-banyak.
Maafkan Suria sebab tak tunggu cikgu datang balik, Sebenarnya Suria ada merancang sesuatu.
Tapi tak dapat Suria catatkan dalam kertas ni. Jumpa lagi cikgu."
Yang benar,
Suria, 4 Satria
"Hm? Pelik betullah budak ni."
Cikgu Zul melawat ke meja Puan Sabariah, guru kelas 4 Satria.
"Kak Sabar, budak nama Suria dalam kelas akak tu, dia ada masalah ke?"
"Suria?"
"Aih jangan kata akak tak nampak dia? Hahaha~"
Cikgu Zul mula ketawa kegelian dengan muka Puan Sabariah yang tercengang.
Serpihan kerepek yang terlekat di tepi bibir Puan Sabariah itu menambah kegelian hatinya.
"Dalam kelas akak mana ada budak nama Suria. Kau ni merepek jelah. Angau kat siapalah tu."
Hilang ketawa cikgu Zul. Tapi dia 'cover' lah.
Kerja diteruskan seperti biasa. Pukul 5.30 petang barulah cikgu Zul dapat menarik nafas lega.
Kerjanya yang bertimbun sudah selesai. Sekarang dia boleh pulang ke rumah.
Sempat juga dia men'cilok' beberapa buah majalah sekolah tahun-tahun yang lalu.
Mungkin seronok buat tengok-tengok semasa bosan, lagi pula dia guru baru.
Memang terujalah dengan sejarah-sejarah sekolah ni.
Dia mengomel seorang diri mengharapkan jalan tidak sesak.
Tetapi entah kenapa, jalan sesak juga.
Hampir Maghrib, barulah cikgu Zul tiba di hadapan rumahnya yang sepatutnya tak
begitu jauh dari sekolah.
Alangkah terkejutnya dia bila mendapati Suria sedang berdiri betul-betul di hadapan pintu pagarnya.
Dia terus teringatkan perbualan dengan Puan Sabariah di sekolah tadi.
"Eh Suria, kenapa datang rumah cikgu ni?"
"Cikgu dah baca surat saya?"
"Dah. Marilah cikgu hantarkan awak balik. Cikgu akan nasihatkan ibu bapa awak."
Suria menarik lengannya, kasar. Mungkin juga anak itu takut.
Tarikannya kuat hingga mereka hampir berpeluk.
"Jangan. Saya tak mahu balik. Saya mahu cikgu."
Suria menempel wajahnya pada dada cikgu muda itu.
Cikgu Zul tergamam, dia tidak membalas, tetapi tempelan Suria
menjadikannya kaku. Dia terasa bajunya basah, mungkin air mata pelajar
itu yang kini kaku seperti patung.
Cikgu Zul terasa lemah. Kakinya tidak mampu melangkah.
Azan Maghrib berkumandang....sayup-sayup kedengaran sebelum hilang....
* * * * * * *
Cikgu Zul membuka mata.
Semua itu, mimpikah?
Dia melihat-lihat majalah sekolah yang berserakan di atas katil.
Mungkin dia telah tertidur semasa melihat-lihat.
Majalah tahun 80an, menarik perhatiannya.
Diselak satu demi satu helaian, gambar Suria terpampang sebagai pemenang ratu sekolah tahun '88.
Eh? Lamanya. Sekarang kan 2011?
"Cikgu, mari sarapan :)"
Suria tiba di bilik dengan sedulang makanan panas.
Cikgu Zul seram sejuk rasanya. Tetapi tak dapat menafikan
bahawa makanan itu terlalu sedap baunya.
Dia tersenyum nipis, dan bingkas bangun menuju tingkap.
Hari sudah pagi, matahari kelihatan muncul di celah bukit nun jauh di sana.
Mata cikgu Zul tertangkap pada segerombolan manusia yang berdiri di hadapan pintu pagarnya.
"Eh apa yang berlaku tu?"
"Tak ada apa-apalah cikgu janganlah risau."
"Cikgu nak turun, kamu jangan ikut, nanti takut ditangkap jabatan agama pula."
Cikgu Zul terus berlari turun. Dia pun ingin tahu apa yang mereka sibuk-sibukkan.
Telinganya menangkap berberapa ayat yang dituturkan
"Eee apa yang dah berlaku ni? Kasihannya dia...dahlah baru tiba, ini pula nasibnya" Suara makcik A.
"Macamana boleh jadi begini? Adakah sesiapa yang nampak semasa kejadian? Suara makcik B
"Semalam waktu Maghrib, saya nampak dia berdiri di sini tidak bergerak. Tak tahu pula saya
tiba-tiba boleh jadi begini. Saya fikir dia sedang memikirkan sesuatu." Suara pakcik C
Cikgu Zul semakin cemas. Dia tiba di pintu pagar.
Di hadapan, tubuhnya terbujur, dadanya berlubang, tangannya bercarik.
Pakcik-pakcik dan makcik-makcik di hadapan rumah tidak mempedulikannya.
Mereka sibuk melihat tubuhnya yang kaku itu.
Cikgu Zul jadi takut.
Macam-macam bermain dalam fikirannya.
Tetapi yang paling menggetarkan jiwanya ialah...
Dia tidak mengucap dua kalimah syahadah.
Suria membaca komik Doraemon di kelas.
Kadang-kadang matanya melilau ke kiri dan kanan.
Cikgunya tak ada dalam kelas pun, maka pemandangan
yang dilihatnya pun memang gaya sewaktu cikgu tidak adalah.
Main bola kertas sana sini, yang perempuan duduk bergosip
Tak kurang juga yang bersidai di koridor kelas.
Suria mengeluh, kepalanya diturunkan agar dagunya mencecah meja.
Nampak malas, serupa orang tak makan pun ada.
"Bosannya...menyesal datang sekolah. Baliklah"
Senyap-senyap dia kemas beg. Begnya besar macam nak isi muatan banyak.
Tapi leper sajalah, maklumlah hujung tahun.
Tapi nampaklah ilusi budak rajin kalau pakai beg serupa itu.
Selesai mengemas, dia pun melangkah keluar kelas.
Rakan sekelasnya yang sibuk bergosip tak hiraukan pun.
Yang sedang bermain bola kertas apatah lagi, lebih khusyuk daripada bersolat.
Dalam perjalanan nak menuruni tangga dia terserempak seorang guru.
Haruslah memberi salam, tetapi tindak tanduknya dihidu oleh sang guru.
"Eh nak pergi mana awak ni?"
"Cis, matilah aku," gumamnya. Apa yang nak dijawab olehnya?
"Em, cikgu...sebenarnya saya nak balik rumah. Hari ni hari terakhir.
Dari pagi saya duduk kat kelas tak buat apa pun, baca komik saja.
Sudilah kiranya cikgu membenarkan saya pulang."
Alamak skemanya ayat. Cikgu memandang Suria. Suria memandang Cikgu.
"Eh 'handsome'lah cikgu ni. Aku tak pernah perasan selama ni."
Wah wah hatinya nak berbunga pula?
"Suria, cikgu tahu awak bosan. Hari ni memang tak ada belajar pun.
Saya nak pergi jaga kelas awak ni, tapi berapa ramai kawan awak yang datang?"
"Adalah lebih kurang 9 orang."
"Eh sedikit sangat tu. Tapi saya terpaksa juga jaga. Peraturan sekolah
pantang dilanggar. Mari, kita akan buat aktiviti yang seronok.
Baru awak kurang bosan :)"
Suria akur dengan kata-kata cikgunya. Dia menuruti langkah lelaki itu dari belakang.
Sambil itu hatinya berkebun bunga bila cikgu itu tahu namanya. Suria lupa barangkali
bahawa tanda nama yang dipakainya memang besar. Dia terasa 'special'.
Setibanya di kelas, alangkah terkejutnya mereka kerana...kelas kosong.
Habis seorang rakan sekelas Suria pun tidak ada di kelas.
Cikgunya menjeling tajam.
"Ta..tadi mereka ada cikgu. Saya dah keluar lepas tu tak tahu pula yang mereka pun nak balik."
"Sudahlah, tak mengapa. Suria apa kata awak tolong saya di bilik guru sebentar?
Saya ada banyak kerja yang perlu dibuat. Awak boleh bantu saya?"
"Em....baik cikgu..." Suria menjawab separa rela.
Tiba di bilik guru, cikgu menyediakan sebuah kerusi di sebelah mejanya untuk Suria.
Dia lalu memberikan air kotak berperisa laici kepada Suria.
"Sekarang awak tolong susunkan semua fail ni mengikut abjad.
Saya harus menyemak dokumen lain. Kalau dah siap nanti beritahu ya?"
Cikgu menghulurkan senyuman yang terlalu manis.
Suria mengangguk, matanya tidak berkelip.
Dengan tekun dia menyusun fail-fail tersebut.
Terlalu bersemangat sehingga dia tidak langsung peduli kepada
reaksi jengkel yang diberikan oleh guru lain.
Cikgu lelaki misteri tadi telah pergi menguruskan perkara lain di luar bilik guru.
Suria, tidak lama kemudian, sudahpun selesai menyusun.
Dia lalu duduk kembali, mengeluh.
Sekali lagi, dia bosan.
Tetapi seketika kemudian, dia tersenyum manis.
Memang manis. Seakan teringatkan sesuatu, Suria bergegas keluar dari bilik guru.
Lebih kurang 15 minit kemudian, cikgu lelaki tersebut pun kembali.
Bila dilihatnya Suria tiada, dia lalu bertanya kepada cikgu lain.
"Ada nampak budak perempuan yang tolong saya tadi tak?"
"Tak nampaklah Cikgu Zul."
"Hm, tak apalah, baru ingat nak..."
Kata-kata cikgu Zul terhenti, matanya tertangkap sekeping nota yang
diletakkan di bawah pemberat kertas berbentuk seterika itu.
"Cikgu, terima kasih kerana nampak Suria. Selama ni tak ada siapa yang nampak dan pedulikan
Suria. Suria macam tak wujud saja dalam dunia ni. Suria tak tahu apa yang Suria dah buat sampai
bila balik rumah pun ayah dan ibu tak hiraukan Suria. Suria sedih. Datang sekolah pun tak dapat
menghilangkan keraguan dan duka Suria. Tapi hari ini, bila Suria berjumpa cikgu, Suria tahu yang
akhirnya Tuhan dah makbulkan doa Suria. Terima kasih cikgu. Terima kasih banyak-banyak.
Maafkan Suria sebab tak tunggu cikgu datang balik, Sebenarnya Suria ada merancang sesuatu.
Tapi tak dapat Suria catatkan dalam kertas ni. Jumpa lagi cikgu."
Yang benar,
Suria, 4 Satria
"Hm? Pelik betullah budak ni."
Cikgu Zul melawat ke meja Puan Sabariah, guru kelas 4 Satria.
"Kak Sabar, budak nama Suria dalam kelas akak tu, dia ada masalah ke?"
"Suria?"
"Aih jangan kata akak tak nampak dia? Hahaha~"
Cikgu Zul mula ketawa kegelian dengan muka Puan Sabariah yang tercengang.
Serpihan kerepek yang terlekat di tepi bibir Puan Sabariah itu menambah kegelian hatinya.
"Dalam kelas akak mana ada budak nama Suria. Kau ni merepek jelah. Angau kat siapalah tu."
Hilang ketawa cikgu Zul. Tapi dia 'cover' lah.
Kerja diteruskan seperti biasa. Pukul 5.30 petang barulah cikgu Zul dapat menarik nafas lega.
Kerjanya yang bertimbun sudah selesai. Sekarang dia boleh pulang ke rumah.
Sempat juga dia men'cilok' beberapa buah majalah sekolah tahun-tahun yang lalu.
Mungkin seronok buat tengok-tengok semasa bosan, lagi pula dia guru baru.
Memang terujalah dengan sejarah-sejarah sekolah ni.
Dia mengomel seorang diri mengharapkan jalan tidak sesak.
Tetapi entah kenapa, jalan sesak juga.
Hampir Maghrib, barulah cikgu Zul tiba di hadapan rumahnya yang sepatutnya tak
begitu jauh dari sekolah.
Alangkah terkejutnya dia bila mendapati Suria sedang berdiri betul-betul di hadapan pintu pagarnya.
Dia terus teringatkan perbualan dengan Puan Sabariah di sekolah tadi.
"Eh Suria, kenapa datang rumah cikgu ni?"
"Cikgu dah baca surat saya?"
"Dah. Marilah cikgu hantarkan awak balik. Cikgu akan nasihatkan ibu bapa awak."
Suria menarik lengannya, kasar. Mungkin juga anak itu takut.
Tarikannya kuat hingga mereka hampir berpeluk.
"Jangan. Saya tak mahu balik. Saya mahu cikgu."
Suria menempel wajahnya pada dada cikgu muda itu.
Cikgu Zul tergamam, dia tidak membalas, tetapi tempelan Suria
menjadikannya kaku. Dia terasa bajunya basah, mungkin air mata pelajar
itu yang kini kaku seperti patung.
Cikgu Zul terasa lemah. Kakinya tidak mampu melangkah.
Azan Maghrib berkumandang....sayup-sayup kedengaran sebelum hilang....
* * * * * * *
Cikgu Zul membuka mata.
Semua itu, mimpikah?
Dia melihat-lihat majalah sekolah yang berserakan di atas katil.
Mungkin dia telah tertidur semasa melihat-lihat.
Majalah tahun 80an, menarik perhatiannya.
Diselak satu demi satu helaian, gambar Suria terpampang sebagai pemenang ratu sekolah tahun '88.
Eh? Lamanya. Sekarang kan 2011?
"Cikgu, mari sarapan :)"
Suria tiba di bilik dengan sedulang makanan panas.
Cikgu Zul seram sejuk rasanya. Tetapi tak dapat menafikan
bahawa makanan itu terlalu sedap baunya.
Dia tersenyum nipis, dan bingkas bangun menuju tingkap.
Hari sudah pagi, matahari kelihatan muncul di celah bukit nun jauh di sana.
Mata cikgu Zul tertangkap pada segerombolan manusia yang berdiri di hadapan pintu pagarnya.
"Eh apa yang berlaku tu?"
"Tak ada apa-apalah cikgu janganlah risau."
"Cikgu nak turun, kamu jangan ikut, nanti takut ditangkap jabatan agama pula."
Cikgu Zul terus berlari turun. Dia pun ingin tahu apa yang mereka sibuk-sibukkan.
Telinganya menangkap berberapa ayat yang dituturkan
"Eee apa yang dah berlaku ni? Kasihannya dia...dahlah baru tiba, ini pula nasibnya" Suara makcik A.
"Macamana boleh jadi begini? Adakah sesiapa yang nampak semasa kejadian? Suara makcik B
"Semalam waktu Maghrib, saya nampak dia berdiri di sini tidak bergerak. Tak tahu pula saya
tiba-tiba boleh jadi begini. Saya fikir dia sedang memikirkan sesuatu." Suara pakcik C
Cikgu Zul semakin cemas. Dia tiba di pintu pagar.
Di hadapan, tubuhnya terbujur, dadanya berlubang, tangannya bercarik.
Pakcik-pakcik dan makcik-makcik di hadapan rumah tidak mempedulikannya.
Mereka sibuk melihat tubuhnya yang kaku itu.
Cikgu Zul jadi takut.
Macam-macam bermain dalam fikirannya.
Tetapi yang paling menggetarkan jiwanya ialah...
Dia tidak mengucap dua kalimah syahadah.
Subscribe to:
Posts (Atom)